Jumat, 07 Oktober 2011

Dialog Publik dalam setahun SPI

          Dalam rangka ulang tahunnya yang pertama SPI (Serikat Perempuan Independen), organisasi perempuan di Kabupaten Pekalongan yang baru mencari bentuk dan sasaran garapan aktifitasnya, Kamis 6 Oktober 2011  menyelenggarakan 'Dialog Publik'. Dialog publik ini dengan mengundang 2 nara sumber dari Pemerintah Daerah, yang sedianya berharap Wakil Bupati namun diwakilkan kepada Kabag Hukum Endang Murdi, SH dan dari BPPKB yang diwakili oleh Kabid PPPA, Dra. Siti Masruroh, M.Si., dan selaku moderator Ir Beny Diah , M.P dosen Fakultas Perikanan UNIKAL.
         Hadir dalam kegiatan ini bebrapa perwakilan organisasi perempuan yang telah tergabung  di GOW (Gabungan Organisasi Wanita), seperti TP PKK, Bhayangkari, Kerta PWRI, Harpi, Iwapi dll, juga beberapa LSM seperti FLP, TIRAI,  Teratai, PMPCL, LKMWP, FPLS, GAKOSH, dan JPM.
         Dalam kesempatan kali ini saya menyampaikan tentang perlunya dukungan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang dapat dilihat dari angka IPM (Index Pembangunan Manusia) yang diraih, ynag faktor penentunya adalah tingkat kesehatan/harapan hidup, pendidikan/angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, ekonomi/pengeluaran per kapita. Dan berdasarkan  delapan tujuan MDG's seluruh indikator kemiskinan sangat berkaitan erat dengan masalah kualitas hidup perempuan dan kesenjangan gender di berbagai bidang dan pemberdayaan perempuan. Adapun kewajiban Pemda dalam program-program pemberdayaan perempuan dengan target : mengurangi kesenjangan gender, memberikan perlindungan terhadap peempuan dan meningkatkan kualitas hidup perempuan di bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, hukum, politik, sosial budaya dan lingkungan hidup.
        Dan Bu Endang banyak menguraikan tentang pengarusutamaan gender yang perlu dukungan dari para laki-laki sebagai partner, suami atau pengambil kebijakan.Karena pada prinsipnya perempuan dan laki=laki  tidak ada bedanya di mata Allah, dan memiliki potensi yang sama. Namun perempuan perlu mengambil kesempatan yang ada dengan didukung pengembangan kapasitas. Untuk itu peran keluarga dan pendidikan sangat signifikan.
       Dalam kesempatan dialog banyak masukan  yang diberikan kepada SPI maupun BPPKB terutama dari LSM yang hadir. Masukan-masukan tersebut terkait anggaran yang diperoleh dari berbagai sumber asal konsep kegiatan jelas sasarannya, peran permpuan dalam memberdayakan diri, maupun peran perempuan dalam menjaga lingkungan  hidup. Semoga bermanfaat bagi peningkatan peran serta partisipasi masyarakat melalui peran organisasi perempuan dan LSM yang peduli terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.. (SM)
    
     
        
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar